Wednesday, April 15, 2009

Cerita Sore

Sore itu tak seperti biasanya Batam berkabut. Jarang terjadi di Batam terutama pada saat kemarau. Sore itu sehabis hujan lebat udara Batam begitu sejuk, sejenak membuat aku lupa akan penatnya aktifitas hari itu. Kebetulan hari itu aku agak sedikit telambat pulang kerumah karena hal-hal menyebalkan yang tidak ingin ku ingat. Aku dan adikku menaiki sepeda motor melewati Sei Ladi dari arah Jodoh. Maksudku bukan jembatan sei ladi tapi persimpangan setelah sei ladi. Kabut sudah terlihat dari kejauhan, keindahannya membuatku mataku sejenak terpejam karena ingin menikmati kesejukan itu. Temaram matahari yang hendak terbenam menambah indahnya suasana. Tetesan air dari pohon seraya embun pagi yang menetes disore hari. Jalan yang basah, langit yang kelabu, semua itu benar-benar mendekati sempurna dengan saat yang aku idamkan. Tenang dan damai.

Namun karena kami masih di jalan dan jam semua orang pulang kerja jadi keheningan itu tak begitu sempurna. Penuh sesak pengendara mobil maupun motor. Meski pepohonan hijau masih rindang dan lembab, meski kabut putih transparan pun menghiasi bukit disekitarku, meski sisa-sisa hujan masih terasa. Indah. Keindahan cintaanNYA akan dapat kita rasakan andai kita bias sedikit saja membuka mata dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain. Bukan bermaksud mendramatisir namun begitulah adanya. Tenang hati ini tak terlukiskan kata.

Sampai di salah satu tempat di sekupang kami mampir di pertokoan untuk membeli sesuatu, adikku sengaja menyelip di belakang sebuah mobil yang parkir agar mobil lain untuk memberi jalan pada mobil lain yang ingin lewat, namun apa yang terjadi, pengemudi Toyota Rush warna silver perempuan itu membuka jendela mobil dan berkata "lihat-lihat dong". Adikku mengatakan "iya" saja untuk menghindari konflik. Kami tertawa bersama-sama setelah mobil itu berlalu. Ternyata ada juga orang kaya (tepatnya orang yang mengemudikan mobil, belum tentu pemiliknya) yang bodoh begitu. Hey bitch what your brain is for?. Yah, mungkin dia tidak bisa menangkap apa yang kami berdua pikirkan untuk memberi jalan padanya. Atau kami memang tidak seharusnya melakukannya? Atau memang orang itu tidak mempunyai otak di kepalanya. Entah, tapi aku lebih memilih hal yang terakhir dan dengan segera melupakan yang telah terjadi dengan tertawa. Ada-ada saja.

Yah… begitulah akhir cerita kabut yang indah disore itu. Berakhir dengan menyebalkan. Oh tentu belum berakhir karena sampai rumah kami berkumpul dengan keluarga yang membuat kami lebih bahagia.

Lebih jelas bahwa segala sesuatu dapat berubah lebih cepat daripada gelombang-gelombang yang muncul pada air yang sedang mendidih. Termasuk juga perubahan keadaan hati kita. So, take a chill!!!!

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...